Silat for Attitude

Didalam kelas kami siswa dibiasakan untuk tidak saja menunjukkan tapi wajib mendemontrasikan sikap hormat. Sikap hormat dikelas kami bukan teori! Tidak mudah mengajarkan anak yang belum tahu kenapa dan siapa yang pantas dihormati dan bagaimana mendemonstrasikan sikap hormat. Kebanyakan orangtua yang anaknya ikut beladiri tidak perlu repot memberi peringatan-peringatan tentang etika dan kesopanan seperti yang kebanyakan terjadi pada orangtua lain. Siswa dikelas kami dibimbing untuk mendemonstrasikan hormat kepada orangtua, pelatih, senior, sesama siswa bahkan juga tempat dimana siswa latihan (dojang). Siswa juga dibiasakan untuk selalu menunjukan semangat serta saling memberi semangat kepada sesama siswa.

Pengaruh Pembelajaran Olahraga Pencak Silat Terhadap Perilaku Agresif

Tujuan ideal pendidikan melalui olahraga pencak silat bersifat menyeluruh, sebab mencakup aspek fisik, moral, sosial, dan emosional. Namun di lain pihak muncul dampak negatif dari penyelenggaraan olahraga pencak silat, misalnya tindakan kekerasan dan perilaku agresif yang tidak terkendali dalam berbagai pertandingan olahraga pencak silat. Hal ini tidak sesuai dengan esensi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam olahraga pencak silat sebagai salah satu alat pendidikan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap gambaran mengenai makna pendidikan yang terkandung dalam pembelajaran pencak silat. Secara khusus bertujuan mengungkap kecenderungan perilaku agresif atlet pencak silat kategori tanding dan kategori seni. Dengan menggunakan metode deskriptif teknik survey, penelitian ini melibatkan 150 orang atlet pencak silat sebagai subjek penelitian, terdiri dari 75 orang atlet kategori tanding dan 75 orang atlet kategori seni yang terlibat dalam kegiatan PORDA IX Jawa Barat tahun 2003 di Indramayu.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur perilaku agresif adalah kuesioner hasil modifikasi dari “The Aggression Questionnaire” (Buss & Perry, 1992), yang terdiri dari 28 item pernyataan, meliputi agresi fisik, agresi verbal, anger, dan hostility.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan perilaku agresif yang signifikan antara kelompok atlet kategori tanding dan kelompok atlet kategori seni. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Lemieux et al. (2002), bahwa atlet olahraga kontak menunjukkan perilaku agresif yang lebih tinggi dibanding dengan olahraga non-kontak. Terdapat perbedaan perilaku agresif yang tidak signifikan antara atlet kategori tanding laki-laki dan atlet kategori tanding wanita. Terdapat perbedaan perilaku agresif yang tidak signifikan antara atlet kategori tanding laki-laki dengan atlet kategori seni wanita. Terdapat perbedaan yang tidak signifikan antara atlet seni laki-laki dengan atlet kategori seni wanita. Terdapat perbedaan yang signifikan antara atlet seni laki-laki dengan atlet tanding wanita.
Dari hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa perilaku agresif sangat diperlukan untuk dapat memenangkan pertandingan dalam olahraga pencak silat, akan tetapi tindakan agresi yang tidak terkendali perlu dicegah karena atlet tidak dapat mengontrol diri sendiri. Pengendalian dorongan agresif atlet dengan mengajarkan falsafah budi pekerti luhur harus merupakan bagian dari latihan pencak silat. Oleh karena itu para pelatih harus dapat mengajarkan atlet untuk mengembangkan dan meningkatkan sifat asertif dalam penampilan. Pelatih harus memberi reinforcement yang tepat kepada atlet yang bertindak agresif.
Mulyana

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)